by

Pandemi Bukanlah Penghambat Kreativitas Bagi Disibilitas

Soppenginfo –Pandemi Covid-19 Covid-19 masih berlanjut. Tanda-tanda berakhirnya penyebaran virus corona pun masih belum terlihat meski vaksin virus ini telah tiba di Indonesia.

Sektor perekonomian telah terpuruk sejak lama. Meski di tengah pandemi berbagai ketidakpastian dunia usaha sudah kembali bergerak. Tidak sedikit muncul bisnis baru mencoba peruntungan di masa serba sulit.

Namun hal itu berbeda dengan I Tengke (65) seorang wanita penyandang disibilitas. Sebelah kakinya tidak tumbuh dengan sempurna. Namun ia tak patah semangat untuk menjalani hidup, sepeninggal sang suami dan tanpa dikaruniai anak. Alhasil I Tengke’ hidup sebatang kara.

Pandemi Bukanlah Penghambat Kreativitas Bagi Disibilitas

Berawal dari Jarum jam beranjak di angka 6 seiring mentari mulai meninggi. Seorang perempuan rentan berjalan tertatih dibantu sebuah tongkat menuju becak motor atau bentor.

Untuk bertahan hidup, warga Desa Lalabata Riaja, Kabupaten Soppeng ini mengandalkan hasil dari anyaman daun lontar. Sebuah keterampilan yang sudah mulai langka ditemui. Dari tangannya yang tidak lentik lagi, lahir satu demi satu kerajinan bakul, kipas, sapu lidi hingga hiasan telur maulid.

Ia pun mahir membuat beppa pute atau kue putih. Penganan khas ini senantiasa menghiasi acara pernikahan mengisi bosara’ atau wadah di acara pernikahan.

Selain anyaman dan penganan, I Tengke’ juga biasa membuat bedda tettu’ atau bedak dingin. Dan hasil kerajinan tangannya ini dijual sendiri di pasar. Dagangannya pun makin variatif karena menghadirkan peralatan acara dan kebutuhan tradisional lainnya, seperti dupa, kayu seccang (aju seppang), be’kkeng atau jimat yang biasa digunakan bayi yang baru lahir.

Pandemi Bukanlah Penghambat Kreativitas Bagi Disibilitas

Di pasar I Tengke’ seolah tidak banyak mengejar untung. Ia sangat santai menjajakan dagangannya, sebab memiliki langganan tetap untuk kue putih dan bedak dingin buatannya.

Berbeda dengan kerajinan anyaman yang hanya laris diwaktu-waktu tertentu, di sela waktu itu I tengke’ tidak pernah lupa bersyukur pada Tuhan yang kerap diisi dengan beribadah diantanranya membaca Al-Qur’an.

 

Dikutip dari Artikel Abhiwardana, Mahasiswa Universitas Merdeka Malang asal Soppeng.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Berita Lainnya